Seperti yang diungkapkan
oleh Leventhal & Clearly (Komasari & Helmi, 2000) terdapat 4 tahap
dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu :
1. Tahap Prepatory.
Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara
mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk
merokok.
2. Tahap Initiation. Tahap
perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan atau tidak
terhadap perilaku merokok.
3. Tahap Becoming a Smoker.
Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang per hari maka
mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
4. Tahap Maintenance of
Smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan
diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang
menyenangkan.
Menurut Smet (1994) ada tiga tipe perokok yang dapat
diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap. Tiga tipe perokok
tersebut adalah :
1. Perokok berat yang
menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
2. Perokok sedang yang
menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
3. Perokok ringan yang
menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.
Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku merokok.
Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka Mu’tadin
(2002)
menggolongkan tipe perilaku
merokok menjadi :
1. Merokok di tempat-tempat
umum / ruang publik
a. Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara
bergerombol mereka menikmati
kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai
orang lain, karena itu mereka menempatkan diri
di smoking area.
b. Kelompok yang heterogen (merokok ditengah
orang-orang lain yang tidak merokok,
anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll).
2.Merokok di tempat-tempat
yang bersifat pribadi
a. Kantor atau di kamar
tidur pribadi. Perokok memilih tempat-tempat seperti ini yang sebagai tempat
merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh
rasa gelisah yang mencekam.
b. Toilet. Perokok jenis
ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.
Menurut Silvan & Tomkins (Mu’tadin, 2002) ada empat
tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, ke empat tipe
tersebut adalah :
1. Tipe perokok yang
dipengaruhi oleh perasaan positif.
a. Pleasure
relaxation, perilaku merokok hanya untuk
menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah
minum kopi atau makan.
b. Simulation to pick them
up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
c. Pleasure of handling the
cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dari memegang rokok.
2. Perilaku merokok yang
dipengaruhi perasaan negatif. Banyak orang yang merokok untuk mengurangi
perasaan negatif dalam dirinya. Misalnya merokok bila marah, cemas, gelisah,
rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak
enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.
3. Perilaku merokok yang
adiktif. Perokok yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap
saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.
4. Perilaku merokok yang
sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena
untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan. Berdasarkan
uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok
pada remaja digolongkan kedalam beberapa tipe
yang dapat dilihat dari banyaknya rokok yang dihisap, tempat merokok, dan
fungsi merokok dalam kehidupan sehari- hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar